Kehidupan manusia modern saat ini tidak terlepas dari berbagai jenis makanan yang salah satunya adalah cokelat. Cokelat dihasilkan dari biji buah kakao yang telah mengalami serangkaian proses pengolahan sehingga bentuk dan aromanya seperti yang terdapat dipasaran.
Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu, kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ketiga sub sektor perkebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta. (Departemen Perindustrian, 2007).
Perkebunan kakao di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir dan pada tahun 2002 areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 914.051 ha. Perkebunan kakao tersebut sebagian besar (87,4%) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 6,0% dikelola perkebunan besar Negara serta 6,7% perkebunan besar swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar adalah jenis kakao curah dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Disamping itu juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar Negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah. (Departemen Perindustrian, 2007).
Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia. Kakao Indonesia mempunyai kelebihan yaitu tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending.
Riset menemukan indikasi bahwa beberapa komponen yang terkandung dalam kakao dapat membantu mencegah penyakit cardiovascular dan dapat mengurangi resiko kanker. Biji kakao mengandung sejumlah besar phytochemical yang merupakan komponen psikologi aktif yang dapat ditemukan pada tanaman-tanaman seperti anggur, apel, teh, buah-buahan, sayuran, dan lain-lain. Kelompok tersebut disebut Flavonoids. Ada hal lain yang membuktikan bahwa flavonoids kakao dapat memberikan keuntungan dalam bidang kesehatan. (Departemen Perindustrian, 2007).
Lingkungan alami tanaman kakao adalah hutan tropis, dimana curah hujan, temperatur, dan sinar matahari menjadi bagian dari faktor iklim yang menentukan, demikian pula dengan faktor fisik dan kimia tanah yang erat kaitannya dengan daya tembus (penetrasi) dan kemampuan akar menyerap hara. (Tumpal H siregar, dkk. 2005).
Untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, suatu tanaman tidak dapat terlepas dari sifat genetiknya dan faktor lingkungan dimana tanaman itu tumbuh.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman dibedakan atas lingkungan biotik dan abiotik. Pada prinsipnya lingkungan abiotik dapat dibagi atas beberapa faktor, yaitu: suhu, air, cahaya, tanah dan atmosfir (Ismail dalam Haryati, 2003).
Beberapa petani kakao terkadang kurang cermat dalam penggunaan air, pada saat persediaan air banyak penyiraman dilakukan dilakukan terus-menerus dan ketika giliran musim kemarau tiba tanaman dibiarkan tanpa pengairan yang cukup karena persediaan air habis sebelum musim kemarau tiba.
Ketersediaan air yang terus berlangsung secara kontinyu dapat membantu pertumbuhan tanaman menjadi optimal, karena air merupakan segalanya bagi tanaman, baik dalam proses fotosintesis, maupun dalam hal pelarut hara di alam tanah.
Informasi mengenai budidaya tanaman kakao, khususnya mengenai toleransi terhadap cekaman air masih terbatas sehingga diperlukan beberapa pengkajian khusus untuk mempelajari pengaruh cekaman air terhadap pertumbuhan bibit kakao.
Saatnya sekarang sebuah ketekunan yang telah aku poles dengan sebuah keriangan seniman akan menopang kaki-kaki yang gemetaran dan paru-paru yang letih ini. Aku akan melaksanakannya. Berikan restumu sekali lagi kepada serdadu kecil abad ke dua puluh ini. (Che Guevara - Surat untuk Orang Tuanya, 1965)
Rabu, 09 Desember 2009
Kopi Arabika
Kopi (Coffea Sp.) merupakan tanaman perkebunan yang menjadi komoditas ekspor dan mempunyai peranan besar terhadap pendapatan dan kesejahtraan petani. Produksi kopi di Indonesia meningkat menjadi lima kali lebih besar sejak abad ke-20. Hal ini menyebabkan kopi menjadi komoditas andalan Indonesia dalam meningkatkan devisa setelah kayu, minyak kelapa sawit, dan karet alam (Bank Indonesia, 1999). Volume ekspor kopi Indonesia pada tahun 1998 mencapai 357.550 ton dengan nilai US$ 584.244.000.
Tanaman kopi bukan tanaman asli Indonesia, tanaman kopi masuk ke Indonesia pertama kali tahun 1696 bersamaan waktunya dengan digemarinya minuman kopi di kawasan Eropa. Tanaman kopi tersebut adalah jenis kopi arabika yang berasal dari Malabar-India. Sejarah mencatat bahwa untuk pertama kalinya pelelangan kopi asal Jawa di Amsterdam dilakukan tahun 1712 dan sejak itu pasaran kopi Eropa mengenal baik “Java coffee” (Siswoputranto, 1993).
Pada tahun 1878 timbul serangan penyakit karat daun yang diperkirakan berasal dari Sri Langka dan menyebar cepat keseluruh perkebunan kopi di Jawa. Karena sulit diberantas, maka sejak tahun 1900 dikembangkan kopi jenis robusta yang relatif tahan penyakit. Jenis kopi robusta ini kemudian berkembang pesat hampir ke seluruh pelosok Nusantara dan pada saat pecah perang dunia ke-II, Hindia Belanda (Indonesia) dikenal sebagai penghasil kopi terbesar ketiga dunia setelah Brazil dan Kolumbia.
Pengembangan areal perkebunan kopi terus berlanjut setelah Indonesia merdeka, dan perkembangan yang paling pesat terjadi pada periode 1975-1985. Areal perkebunan kopi Indonesia mencapai sejuta hektar pada tahun 1988. Kemudian perkembangan areal perkebunan kopi berjalan lambat bahkan terjadi penyusutan setelah mencapai puncaknya tahun 1997 yaitu 1,17 juta hektar.
Pada tahun 2001 diperkirakan areal perkebunan kopi Indonesia seluas 1,13 juta hektar atau meningkat hampir 3 kali lipat areal kopi tahun 1975. Perkebunan kopi Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat dengan total areal 1,06 juta ha atau 94,14%, sementara areal perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta masing-masing seluas 39,3 ribu ha (3,48%) dan 26,8 ribu ha (2,38%). Areal perkebunan rakyat tersebut dikelola oleh sekitar 2,12 juta kepala keluarga petani (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2001).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkebunan kopi paling tidak telah
menyediakan kesempatan kerja kepada lebih dari 2 juta kepala keluarga petani dan ratusan ribu kesempatan kerja di perkebunan besar, pedagang pengumpul hingga eksportir. Disamping itu juga tercipta kesempatan kerja pada industri hilir kopi dan pedagang hasil olahan kopi.
Namun peranan komoditas kopi tersebut mulai memudar sejak tahun 2000, khususnya setelah perkopian dunia dilanda krisis akibat membanjirnya produksi kopi dunia. Harga kopi dunia terus merosot hingga mencapai titik terendah selama 37 tahun terakhir pada awal tahun 2002 dan belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga kopi di tingkat petani karena biji kopi Indonesia sangat tergantung pada pasar internasional. Harga kopi di tingkat petani sangat rendah, sehingga berdampak negatif bagi perekonomian nasional terutama di sentra-sentra produksi kopi seperti Lampung dan Sumatera Selatan (Herman, 2003).
Tanaman kopi merupakan tanaman tahunan yang apabila dibudidayakan dengan baik akan memberikan hasil yang menguntungkan. Pertumbuhan dan produksi kopi sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim dan tanah, kebutuhan pokok lainnya yang tidak dapat diabaikan adalah bibit unggul yang berkualitas baik (Aksi Agraris Kanisius, 1998).
Ada beberapa spesies kopi yang dikenal, yaitu Coffea arabica, Coffea canephora, Coffea excelsa dan Coffea liberica, tetapi yang diusahakan komersial di Indonesia hanya ada dua, yaitu kopi robusta (canephora) dan kopi arabika. Di Indonesia produksi kopi robusta mencapai 93%, sedangkan kopi arabika 7% (Wachjar, 1984).
Salah satu kunci keberhasilan budidaya kopi adalah penggunaan bahan tanam unggul yang sesuai dengan kondisi agroklimat tempat penanaman (Retno Hulupi, 1999). Kemudian menurut Joko Roesmanto (1991), bibit kopi yang berkualitas baik antara lain memiliki kriteria, bibit berasal dari pohon induk yang terpilih, tumbuhnya merata dan tidak terserang hama penyakit.
Rendahnya produktifitas disebabkan oleh belum diterapkannya teknologi budidaya secara benar, sehingga berpengaruh besar terhadap hasil produksi. Oleh karena itu pembibitan perlu mendapat perhatian khusus, karena bibit yang berkualitas baik merupakan salah satu faktor yang akan memberikan jaminan produksi tinggi.
Menurut Tumpul Siregar, Slamet Riyadi, dan Laili Nuraeni (1994), ketersediaan bibit tanaman yang berkualitas, baik jenis maupun kondisinya merupakan salah satu modal penting dalam suatu usaha tani. Untuk mendapatkan bibit tanaman berkondisi baik adalah melalui perawatan yang intensif pada masa-masa pembibitan.
Salah satu usaha pemeliharaan yang penting di pembibitan adalah aspek pemupukan (Arivin Rivaie, Suratman dan Hobir, 1991). Tanaman kopi selama masa pertumbuhannnya selalu memerlukan unsur hara, baik unsur hara makro maupun mikro. Dalam jangka waktu yang lama bila tidak diimbangi dengan pemberian pupuk, tanaman akan mengalami kekurangan unsur hara sehingga tanaman akan merana pertumbuhannya. Tanaman yang dipupuk secara optimal dan teratur akan memiliki daya tahan yang lebih besar, dengan demikian tanaman tidak mudah dipengaruhi oleh keadaan yang ekstrim, misalnya kekurangan air pada musim kemarau yang terlalu panjang, temperatur yang terlalu tinggi atau rendah (Wahyu Mulyana, 1994).
Tujuan dari pemupukan itu sendiri adalah menambah ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman guna meningkatkan produksi baik kualitas maupun kuantitasnya (Saifuddin Sarief, 1990). Dengan demikian bahwa tindakan pemupukan pada dasarnya bertujuan untuk menambah atau melengkapi unsur hara dalam tanah yang keadaannya kurang sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Unsur hara adalah unsur yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan, membentuk batang, daun, cabang baru, bunga dan buah. Bila tanaman kekurangan salah satu unsur hara maka akan timbul gejala yang merugikan seperti tanaman kurus dan menguning, sulit berbuah dan lain sebagainya (Sri Najiyati dan Danarti, 2007).
Pupuk pelengkap cair Forset Tonik® mengandung unsur N, P, K, S, Ca, Mg, Mn, Bo, Fe, Zn, Cu, Mo. Sehingga pupuk ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah kekurangan unsur makro serta mencegah dan memulihkan tanaman yang mengalami kekurangan unsur hara mikro. Oleh karena informasi mengenai pengaruh pupuk ini terhadap pertumbuhan bibit kopi arabika belum diketahui dengan pasti, maka perlu dilakukan suatu penelitian.
1.2. Identifikasi Masalah
Dari uraian di atas maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
Sejauh mana pengaruh konsentrasi pupuk pelengkap cair Forset Tonik® terhadap pertumbuhan bibit Kopi Arabika S 795.
Berapa konsentrasi pupuk pelengkap cair Forset Tonik® yang dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan bibit Kopi Arabika S 795.
1.3. Tujuan dan Kegunanaan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi pupuk daun lengkap Forset Tonik yang tepat yang akan memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan bibit kopi arabika.
Kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai konsentrasi pupuk Forset Tonik dengan tepat bagi petani kopi serta mengoptimalisasi penggunaan pupuk.
Pembibitan merupakan tahapan yang sangat penting dalam budidaya tanaman kopi karena akan menentukan kemampuan hidup tanaman pada tahap selanjutnya di lapangan. Bibit yang bermutu merupakan hasil interaksi tanaman dan faktor lingkungan.
Pertumbuhan tanaman kopi yang baik didukung oleh tersedianya unsur hara di dalam tanah dalam jumlah yang cukup. Kriteria cukup atau tidaknya unsur hara di dalam tanah untuk memenuhi kebutuhan tanaman didasarkan atas kebutuhan tanaman pada kandungan tertentu dari masing-masing hara.
Pemupukan terhadap tanaman dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pemupukan melalui akar dan pemupukan melalui daun. Pada pemupukan melalui akar, proses penyerapan unsur hara tidak selalu berjalan dengan mulus, sering hara mengalami pengurangan seperti gangguan gulma, penguapan, tercuci atau terserap oleh partikel lain. Dengan demikian efektivitas dan efesiensi pemupukan yang diharapkan tidak tercapai. Pemupukan melalui daun dilakukan untuk menghindari larutnya unsur hara sebelum dapat diserap oleh akar tanaman atau mengalami fiksasi dalam tanah yang berakibat tidak dapat diserap oleh tanaman (Djoehana Setyamidjadja, 1986). Menurut Ujiter dkk. (1976) pemupukan melalui daun akan lebih efektif bila akar tanaman tidak mampu menyerap nutrisi dalam jumlah yang cukup. Pinus Lingga (1991) mengemukakan bahwa lebih cepat unsur hara diserap daun, menyebabkan lebih cepat tanaman menumbuhkan tunas.
Menurut Salisbury dan Ross (1995), unsur hara yang diserap oleh daun masuk ke dalam tubuh tanaman melalui retakan-retakan kutikula lalu masuk ke epidermis melalui ektodesmata yang kemudian dilanjutkan ke phloem dan didistribusikan ke bagian tanaman yang memerlukan, seperti ke bagian-bagian meristematis atau sel tumbuhan yang sedang tumbuh. Proses penyerapan unsur hara lebih banyak dilakukan oleh retakan kutikula, kemudian stomata dalam hal ini hanya menyerap CO₂ untuk membantu proses fotosintesis. Hasil fotosintesis dari daun diangkut ke seluruh bagian tanaman yang membutuhkan, dimana pengangkutan ini melalui phloem, sebaliknya air dan unsur hara yang terdapat di dalam tanah diangkut ke daun melalui xylem (Dwijoseputro D., 1980).
Adapun kelebihan pemberian pupuk pelengkap cair menurut Muhajir dkk. (1990) adalah mengatasi kekurangan hara yang dibutuhkan tanaman karena pengaruhnya yang cepat dan langsung pada tanaman, lebih efisien karena jumlah yang diperlukan lebih sedikit dibandingkan melalui tanah.
Pupuk pelengkap cair Forset Tonik® mengandung unsur N, P, K, S, Ca, Mg, Mn, Bo, Fe, Zn, Cu, Mo. Dosis pupuk pelengkap cair Forset Tonik® yang direkomendasikan untuk bibit kopi adalah 2-3 ml/1 liter air*.
Menurut Benson (1957), bahwa klasifikasi botani tanaman kopi adalah sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Rubiales
Familia : Rubiaceae
Genus : Coffea
Species : C. arabica, C. canephora, C. liberica, C. excelsa
Kopi arabika (Coffea arabica L.) termasuk dalam genus Coffea dari familia Rubiaceae. Akar kopi berakar tunggang, lurus ke bawah, pendek dan kuat, panjang akar tunggang berkisar 45 sampai 50 cm, akar samping yang menurun ke bawah spanjang 2 – 3 cm. Secara umum perakaran kopi terdiri atas perakaran di lapisan permukaan berupa akar serabut (fine roots) dan akar tunggang (tap roots). Akan tetapi, dengan bertambahnya umur tanaman, perakaran yang berada di bawah kedalaman 30 cm semakin berkembang (Wilson, 1985). Akar tunggang berfungsi untuk menembus tanah lapisan bawah serta berperan mencari air dan menunjang berdirinya pohon.
Bentuk daun bulat telur yang ujungnya agak runcing sampai bulat, daun tersebut tumbuh pada batang, cabang dan ranting. Bunga tersusun berkelompok terdiri atas 4-6 kuntum bunga yang bertangkai pendek. Dari bunga sampai menjadi buah masak diperlukan waktu selama 7-9 bulan, buah kopi muda berwarna hijau sedangkan
Syarat Tumbuh
Tanaman kopi pada umumnya menghendaki tanah yang memiliki lapisan top soil yang dalam, gembur, subur dan banyak mengandung humus. Dengan kata lain tekstur tanahnya harus baik yaitu idealnya tanah yang berasal dari hasil letusan gunung berapi (vulkanis) atau yang cukup mengandung pasir. Kisaran pH tanah antara 5,5 sampai 6,5. Ketinggian tempat yang dikehendaki yaitu 1250 m sampai 1850 m dpl. dengan temperatur rata-rata 17̊⁰C hingga 21⁰C untuk kopi arabika.
Menurut Soetanto Abdoelah dan Prawoto (1986) batas curah hujan untuk tanaman kopi adalah 1.000 - 2.000 mm/tahun, sedangkan curah hujan optimal sekitar 1.250 - 1.850 mm dan jumlah hari hujan sekitar 164 Jenis dan Macam Pupuk
Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah karena pupuk adalah zat yang berisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis terserap tanaman dari tanah.
Jadi pemupukan berarti menambah persediaan hara dalam tanah. Pada pupuk terdapat kandungan unsur yang berbeda persentasenya tergantung jenis dan asalnya, seperti juga unsur hara tanah yang mengenal makro dan mikro.
Pembagian pupuk berdasarkan asalnya, yaitu :
Pupuk buatan (anorganik) seperti : pupuk N (Urea), P (SP-36), K (KCl), dan lain-lain.
Pupuk alam (organik) seperti : pupuk kandang, kompos, humus, dan lain-lain.
Berdasarkan cara pemberiannya, pupuk terdiri atas :
Pupuk yang diberikan melalui tanah, yaitu segala jenis pupuk yang diberikan melalui tanah yang kemudian akan diserap melalui akar, misalnya urea, SP-36, ZA, KCl, kompos, pupuk kandang, dan lain-lain.
Pupuk daun, yaitu segala macam pupuk yang diberikan lewat daun dengan jalan menyemprotkan ke tubuh tanaman.
Berdasarkan jumlah unsur hara yang dikandungnya, pupuk terdiri dari :
Pupuk tunggal, yaitu pupuk yang hanya mengandung satu unsur hara, misalnya urea (N).
Pupuk majemuk, yaitu pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur seperti NPK dan beberapa pupuk daun serta kompos.
Pupuk lengkap, yaitu pupuk yang mengandung unsur lengkap secara keseluruhan (baik unsur makro maupun mikro).
Nitrogen (N)
Nitrogen merupakan unsur hara esensial yang dibutuhkan tanaman, karena nitrogen merupakan penyusun protoplasma secara keseluruhan (Sarwono, 1995). Nitrogen diambil tanaman dalam bentuk amonium (NH₄⁺) dan nitrat (NO₃⁺). Ion-ion amonium dan beberapa karbonat mengelami sintesis dalam daun dan diubah menjadi asam amino yang terjadi pada hijau daun. Apabila unsur nitrogen tersedia dengan tepat akan menghasilkan protein yang tinggi (Saifuddin Sarief, 1986).
Peranan nitrogen pada tanaman adalah untuk merangsang pertumbuhan, memberikan warna hijau pada daun, mengatur penggunaan kalium, Posfor dan unsur penyusun lainnya pada tanaman.
Gejala kekurangan nitrogen memperlihatkan daun-daun berwarna hijau kekuning-kuningan hingga menjadi kuning seutuhnya, pertumbuhan kerdil dan kurus. Pemberian pupuk N yang berlebihan dapat mengakibatkan tanaman rentan terhadap penyakit (Saifuddin Sarief, 1986).
Fosfor (P)
Fosfor umumnya diserap tanaman sebagai ortofosfat (H₂PO₄⁺) atau sekunder (H₂PO₄⁻) masuk dalam tanaman melalui akar rambut, ujung akar dan tudung akar. Gejala kekurangan fosfor ditandai dengan pertumbuhan terhambat (kerdil), karena pembelahan sel terganggu, selain itu secara fisik akan terlihat daun-daun menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun. Sedangkan apabila fosfor diberikan secara berlebihan akan mengakibatkan tinggi tanaman terhambat dan pembentukan cabang berkurang (Ismunadi dkk, 1991).
Kalium (K)
Kalium memegang peranan penting pada proses fotosintesis. Pemberian kalium dapat meningkatkan kecepatan fotosintesis karena sel-sel daun menjadi lebih besar dan jumlah stomata meningkat. Fungsi utama kalium membantu pembentukan protein dan karbohidrat serta berperan memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur (Pinus Lingga, 1991).
Kalium memiliki sifat higroskofis karena itu kalium dapat menyerap air dari atmosfer sehingga kebutuhan air dalam tubuh tanaman dapat terjaga. Kalium dalam bentuk ion diperlukan dalam jumlah banyak untuk pertumbuhan tanaman, kekurangan kalium pada daun tua akan menyebabkan klorosis, bagian ujung daun menguning dan akhirnya mati. Sementara kelebihan kalium tidak berpengaruh negatif terhadap tanaman (Pinus Lingga, 1991).
Kalsium (Ca)
Kalsium bertugas untuk merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mengeraskan batang tanaman dan merangsang pembentukan biji. Kalsium yang terdapat pada batang dan daun berfungsi untuk menetralisasi senyawa atau keadaan yang tidak menguntungkan pada tanah (Pinus Lingga, 1991).
Tanaman yang mengalami kekuranagn kalsium dicirikan oleh tepi daun-daun muda yang mengalami klorosis. Gejala ini lambat laun akan menjalar diantara tulang-tulang daun. Kuncup-kuncup muda akan mati karena perakarannya kurang sempurna, dan sering berbentuk abnormal. Kalaupun ada daun yang muncul, warnanya akan berubah dan jaringan di beberapa tempat pada helai daun akan mati (Pinus Lingga, 1991).
Magnesium (Mg)
Magnesium berfungsi untuk reaksi-reaksi energi metabolisme, sintesis nukleus, kloroplas, ribosom dan penting untuk fotosintesis. Magnesium memberikan pengaruh untuk terciptanya hijau daun yang sempurna dan terbentuknya karbohidrat, lemak dan minyak-minyak. Selain itu magnesium memegang peranan penting dalam transportasi fospat pada tanaman. Dengan demikian kandungan fosfat pada tanaman dapat dinaikan dengan jalan menambah unsur magnesium (Pinus Lingga, 1991).
Belerang (S)
Belerang berperan dalam pembentukan bintil-bintil akar, sulfur juga merupakan bagian dari asam amino sistein, sistin, metionin dan penyusun protein. Selain itu sulfur dapat membantu pertumbuhan anakan.
Gejala tanaman yang kekurangan belerang umumnya tampak pada seluruh daun muda yang berubah menjadi hijau muda, kadang-kadang warnanya tampak tidak merata, sedikit mengkilat agak keputihan, kemudian berubah menjadi hijau kekuning-kuningan, pertumbuhan tanaman terhambat, kerdil, berbatang pendek dan kurus (Pinus Lingga, 1991).
Besi (Fe)
Besi memiliki peran yang tidak dapat digantikan dalam pembentukan
kloropil. Gejala kekurangan besi dapat menimbulkan klorosis, lembaran daun akan menguning atau pucat, sedangkan urat-urat daun tetap berwarna hijau (Dwijosepoetro, 1992).
Mangan (Mn)
Mangan mempunyai peranan penting dalam menyusun klorofil, membantu fotosintesis, merangsang perkecambahan biji dan pemasakan buah (Djoehana Setyamidjaya, 1986). Kekurangan mangan sama halnya dengan gejala kekurangan besi tetapi klorosisnya lebih jelas antara urat-urat daun dengan daun yang kekurangan warna hijau (Mul Mulyani Sutedja dan Kartasapoetra, 1993).
Seng (Zn)
Seng adalah unsur yang berperan dalam mengaktifkan enzim pada proses pembentukan asam indolasetat (Dwijosepoetra, 1992). Kekurangan unsur ini akan menyebabkan kerusakan pada ujung akar.
Tembaga (Cu)
Tembaga berfungsi sebagai pembentuk bagian enzim dan diperlukan untuk pembentukan substansi (zat) yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan proses oksidasi reduksi. Kekurangan Cu mengakibatkan tanaman mudah rebah (Saleh, 1976).
Boron (Bo)
Boron berfungsi mengangkut karbohidrat pada tubuh tanaman dan menghisap unsur kalsium. Selain itu, boron berperan dalam perkembangan bagian-bagian tanaman untuk tumbuh aktif. Pada tanaman penghasil biji, unsur ini berpengaruh terhadap pembelahan sel (Pinus Lingga, 1991).
Kelainan yang diakibatkan oleh kekurangan unsur boron paling nyata tampak pada tepi-tepi daun, yaitu gejala klorosis mulai dari bagian bawah daun kemudian mengering dan mati. Daun yang baru muncul menjadi kerdil, kuncup-kuncup mati dan berwarna hitam. Kekurangan unsur ini bisa mengakibatkan gangguan fisiologis, khususnya pada tanaman sayuran, tembakau dan apel. Bahkan pada tanaman jagung dapat menyebabkan tongkolnya tanpa biji sama sekali. sementara itu kelebihan boron dalam tanah tidak berpengaruh negatif terhadap tanaman (Pinus Lingga, 1991).
Molibdenum (Mo)
Molibdenum berperan sebagai pembawa elektron pada beberapa enzim yang berperan dalam reduksi nitrat dan fiksasi nitrogen. Kekurangan Mo pada daun ditandai dengan klorosis mulai pada daun tua seperti kekurangan nitrogen (Wieny H. R. Marma Jaya, dkk., 1985).
Tanaman kopi bukan tanaman asli Indonesia, tanaman kopi masuk ke Indonesia pertama kali tahun 1696 bersamaan waktunya dengan digemarinya minuman kopi di kawasan Eropa. Tanaman kopi tersebut adalah jenis kopi arabika yang berasal dari Malabar-India. Sejarah mencatat bahwa untuk pertama kalinya pelelangan kopi asal Jawa di Amsterdam dilakukan tahun 1712 dan sejak itu pasaran kopi Eropa mengenal baik “Java coffee” (Siswoputranto, 1993).
Pada tahun 1878 timbul serangan penyakit karat daun yang diperkirakan berasal dari Sri Langka dan menyebar cepat keseluruh perkebunan kopi di Jawa. Karena sulit diberantas, maka sejak tahun 1900 dikembangkan kopi jenis robusta yang relatif tahan penyakit. Jenis kopi robusta ini kemudian berkembang pesat hampir ke seluruh pelosok Nusantara dan pada saat pecah perang dunia ke-II, Hindia Belanda (Indonesia) dikenal sebagai penghasil kopi terbesar ketiga dunia setelah Brazil dan Kolumbia.
Pengembangan areal perkebunan kopi terus berlanjut setelah Indonesia merdeka, dan perkembangan yang paling pesat terjadi pada periode 1975-1985. Areal perkebunan kopi Indonesia mencapai sejuta hektar pada tahun 1988. Kemudian perkembangan areal perkebunan kopi berjalan lambat bahkan terjadi penyusutan setelah mencapai puncaknya tahun 1997 yaitu 1,17 juta hektar.
Pada tahun 2001 diperkirakan areal perkebunan kopi Indonesia seluas 1,13 juta hektar atau meningkat hampir 3 kali lipat areal kopi tahun 1975. Perkebunan kopi Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat dengan total areal 1,06 juta ha atau 94,14%, sementara areal perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta masing-masing seluas 39,3 ribu ha (3,48%) dan 26,8 ribu ha (2,38%). Areal perkebunan rakyat tersebut dikelola oleh sekitar 2,12 juta kepala keluarga petani (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2001).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkebunan kopi paling tidak telah
menyediakan kesempatan kerja kepada lebih dari 2 juta kepala keluarga petani dan ratusan ribu kesempatan kerja di perkebunan besar, pedagang pengumpul hingga eksportir. Disamping itu juga tercipta kesempatan kerja pada industri hilir kopi dan pedagang hasil olahan kopi.
Namun peranan komoditas kopi tersebut mulai memudar sejak tahun 2000, khususnya setelah perkopian dunia dilanda krisis akibat membanjirnya produksi kopi dunia. Harga kopi dunia terus merosot hingga mencapai titik terendah selama 37 tahun terakhir pada awal tahun 2002 dan belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga kopi di tingkat petani karena biji kopi Indonesia sangat tergantung pada pasar internasional. Harga kopi di tingkat petani sangat rendah, sehingga berdampak negatif bagi perekonomian nasional terutama di sentra-sentra produksi kopi seperti Lampung dan Sumatera Selatan (Herman, 2003).
Tanaman kopi merupakan tanaman tahunan yang apabila dibudidayakan dengan baik akan memberikan hasil yang menguntungkan. Pertumbuhan dan produksi kopi sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim dan tanah, kebutuhan pokok lainnya yang tidak dapat diabaikan adalah bibit unggul yang berkualitas baik (Aksi Agraris Kanisius, 1998).
Ada beberapa spesies kopi yang dikenal, yaitu Coffea arabica, Coffea canephora, Coffea excelsa dan Coffea liberica, tetapi yang diusahakan komersial di Indonesia hanya ada dua, yaitu kopi robusta (canephora) dan kopi arabika. Di Indonesia produksi kopi robusta mencapai 93%, sedangkan kopi arabika 7% (Wachjar, 1984).
Salah satu kunci keberhasilan budidaya kopi adalah penggunaan bahan tanam unggul yang sesuai dengan kondisi agroklimat tempat penanaman (Retno Hulupi, 1999). Kemudian menurut Joko Roesmanto (1991), bibit kopi yang berkualitas baik antara lain memiliki kriteria, bibit berasal dari pohon induk yang terpilih, tumbuhnya merata dan tidak terserang hama penyakit.
Rendahnya produktifitas disebabkan oleh belum diterapkannya teknologi budidaya secara benar, sehingga berpengaruh besar terhadap hasil produksi. Oleh karena itu pembibitan perlu mendapat perhatian khusus, karena bibit yang berkualitas baik merupakan salah satu faktor yang akan memberikan jaminan produksi tinggi.
Menurut Tumpul Siregar, Slamet Riyadi, dan Laili Nuraeni (1994), ketersediaan bibit tanaman yang berkualitas, baik jenis maupun kondisinya merupakan salah satu modal penting dalam suatu usaha tani. Untuk mendapatkan bibit tanaman berkondisi baik adalah melalui perawatan yang intensif pada masa-masa pembibitan.
Salah satu usaha pemeliharaan yang penting di pembibitan adalah aspek pemupukan (Arivin Rivaie, Suratman dan Hobir, 1991). Tanaman kopi selama masa pertumbuhannnya selalu memerlukan unsur hara, baik unsur hara makro maupun mikro. Dalam jangka waktu yang lama bila tidak diimbangi dengan pemberian pupuk, tanaman akan mengalami kekurangan unsur hara sehingga tanaman akan merana pertumbuhannya. Tanaman yang dipupuk secara optimal dan teratur akan memiliki daya tahan yang lebih besar, dengan demikian tanaman tidak mudah dipengaruhi oleh keadaan yang ekstrim, misalnya kekurangan air pada musim kemarau yang terlalu panjang, temperatur yang terlalu tinggi atau rendah (Wahyu Mulyana, 1994).
Tujuan dari pemupukan itu sendiri adalah menambah ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman guna meningkatkan produksi baik kualitas maupun kuantitasnya (Saifuddin Sarief, 1990). Dengan demikian bahwa tindakan pemupukan pada dasarnya bertujuan untuk menambah atau melengkapi unsur hara dalam tanah yang keadaannya kurang sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Unsur hara adalah unsur yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan, membentuk batang, daun, cabang baru, bunga dan buah. Bila tanaman kekurangan salah satu unsur hara maka akan timbul gejala yang merugikan seperti tanaman kurus dan menguning, sulit berbuah dan lain sebagainya (Sri Najiyati dan Danarti, 2007).
Pupuk pelengkap cair Forset Tonik® mengandung unsur N, P, K, S, Ca, Mg, Mn, Bo, Fe, Zn, Cu, Mo. Sehingga pupuk ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah kekurangan unsur makro serta mencegah dan memulihkan tanaman yang mengalami kekurangan unsur hara mikro. Oleh karena informasi mengenai pengaruh pupuk ini terhadap pertumbuhan bibit kopi arabika belum diketahui dengan pasti, maka perlu dilakukan suatu penelitian.
1.2. Identifikasi Masalah
Dari uraian di atas maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
Sejauh mana pengaruh konsentrasi pupuk pelengkap cair Forset Tonik® terhadap pertumbuhan bibit Kopi Arabika S 795.
Berapa konsentrasi pupuk pelengkap cair Forset Tonik® yang dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan bibit Kopi Arabika S 795.
1.3. Tujuan dan Kegunanaan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi pupuk daun lengkap Forset Tonik yang tepat yang akan memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan bibit kopi arabika.
Kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai konsentrasi pupuk Forset Tonik dengan tepat bagi petani kopi serta mengoptimalisasi penggunaan pupuk.
Pembibitan merupakan tahapan yang sangat penting dalam budidaya tanaman kopi karena akan menentukan kemampuan hidup tanaman pada tahap selanjutnya di lapangan. Bibit yang bermutu merupakan hasil interaksi tanaman dan faktor lingkungan.
Pertumbuhan tanaman kopi yang baik didukung oleh tersedianya unsur hara di dalam tanah dalam jumlah yang cukup. Kriteria cukup atau tidaknya unsur hara di dalam tanah untuk memenuhi kebutuhan tanaman didasarkan atas kebutuhan tanaman pada kandungan tertentu dari masing-masing hara.
Pemupukan terhadap tanaman dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pemupukan melalui akar dan pemupukan melalui daun. Pada pemupukan melalui akar, proses penyerapan unsur hara tidak selalu berjalan dengan mulus, sering hara mengalami pengurangan seperti gangguan gulma, penguapan, tercuci atau terserap oleh partikel lain. Dengan demikian efektivitas dan efesiensi pemupukan yang diharapkan tidak tercapai. Pemupukan melalui daun dilakukan untuk menghindari larutnya unsur hara sebelum dapat diserap oleh akar tanaman atau mengalami fiksasi dalam tanah yang berakibat tidak dapat diserap oleh tanaman (Djoehana Setyamidjadja, 1986). Menurut Ujiter dkk. (1976) pemupukan melalui daun akan lebih efektif bila akar tanaman tidak mampu menyerap nutrisi dalam jumlah yang cukup. Pinus Lingga (1991) mengemukakan bahwa lebih cepat unsur hara diserap daun, menyebabkan lebih cepat tanaman menumbuhkan tunas.
Menurut Salisbury dan Ross (1995), unsur hara yang diserap oleh daun masuk ke dalam tubuh tanaman melalui retakan-retakan kutikula lalu masuk ke epidermis melalui ektodesmata yang kemudian dilanjutkan ke phloem dan didistribusikan ke bagian tanaman yang memerlukan, seperti ke bagian-bagian meristematis atau sel tumbuhan yang sedang tumbuh. Proses penyerapan unsur hara lebih banyak dilakukan oleh retakan kutikula, kemudian stomata dalam hal ini hanya menyerap CO₂ untuk membantu proses fotosintesis. Hasil fotosintesis dari daun diangkut ke seluruh bagian tanaman yang membutuhkan, dimana pengangkutan ini melalui phloem, sebaliknya air dan unsur hara yang terdapat di dalam tanah diangkut ke daun melalui xylem (Dwijoseputro D., 1980).
Adapun kelebihan pemberian pupuk pelengkap cair menurut Muhajir dkk. (1990) adalah mengatasi kekurangan hara yang dibutuhkan tanaman karena pengaruhnya yang cepat dan langsung pada tanaman, lebih efisien karena jumlah yang diperlukan lebih sedikit dibandingkan melalui tanah.
Pupuk pelengkap cair Forset Tonik® mengandung unsur N, P, K, S, Ca, Mg, Mn, Bo, Fe, Zn, Cu, Mo. Dosis pupuk pelengkap cair Forset Tonik® yang direkomendasikan untuk bibit kopi adalah 2-3 ml/1 liter air*.
Menurut Benson (1957), bahwa klasifikasi botani tanaman kopi adalah sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Rubiales
Familia : Rubiaceae
Genus : Coffea
Species : C. arabica, C. canephora, C. liberica, C. excelsa
Kopi arabika (Coffea arabica L.) termasuk dalam genus Coffea dari familia Rubiaceae. Akar kopi berakar tunggang, lurus ke bawah, pendek dan kuat, panjang akar tunggang berkisar 45 sampai 50 cm, akar samping yang menurun ke bawah spanjang 2 – 3 cm. Secara umum perakaran kopi terdiri atas perakaran di lapisan permukaan berupa akar serabut (fine roots) dan akar tunggang (tap roots). Akan tetapi, dengan bertambahnya umur tanaman, perakaran yang berada di bawah kedalaman 30 cm semakin berkembang (Wilson, 1985). Akar tunggang berfungsi untuk menembus tanah lapisan bawah serta berperan mencari air dan menunjang berdirinya pohon.
Bentuk daun bulat telur yang ujungnya agak runcing sampai bulat, daun tersebut tumbuh pada batang, cabang dan ranting. Bunga tersusun berkelompok terdiri atas 4-6 kuntum bunga yang bertangkai pendek. Dari bunga sampai menjadi buah masak diperlukan waktu selama 7-9 bulan, buah kopi muda berwarna hijau sedangkan
Syarat Tumbuh
Tanaman kopi pada umumnya menghendaki tanah yang memiliki lapisan top soil yang dalam, gembur, subur dan banyak mengandung humus. Dengan kata lain tekstur tanahnya harus baik yaitu idealnya tanah yang berasal dari hasil letusan gunung berapi (vulkanis) atau yang cukup mengandung pasir. Kisaran pH tanah antara 5,5 sampai 6,5. Ketinggian tempat yang dikehendaki yaitu 1250 m sampai 1850 m dpl. dengan temperatur rata-rata 17̊⁰C hingga 21⁰C untuk kopi arabika.
Menurut Soetanto Abdoelah dan Prawoto (1986) batas curah hujan untuk tanaman kopi adalah 1.000 - 2.000 mm/tahun, sedangkan curah hujan optimal sekitar 1.250 - 1.850 mm dan jumlah hari hujan sekitar 164 Jenis dan Macam Pupuk
Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah karena pupuk adalah zat yang berisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis terserap tanaman dari tanah.
Jadi pemupukan berarti menambah persediaan hara dalam tanah. Pada pupuk terdapat kandungan unsur yang berbeda persentasenya tergantung jenis dan asalnya, seperti juga unsur hara tanah yang mengenal makro dan mikro.
Pembagian pupuk berdasarkan asalnya, yaitu :
Pupuk buatan (anorganik) seperti : pupuk N (Urea), P (SP-36), K (KCl), dan lain-lain.
Pupuk alam (organik) seperti : pupuk kandang, kompos, humus, dan lain-lain.
Berdasarkan cara pemberiannya, pupuk terdiri atas :
Pupuk yang diberikan melalui tanah, yaitu segala jenis pupuk yang diberikan melalui tanah yang kemudian akan diserap melalui akar, misalnya urea, SP-36, ZA, KCl, kompos, pupuk kandang, dan lain-lain.
Pupuk daun, yaitu segala macam pupuk yang diberikan lewat daun dengan jalan menyemprotkan ke tubuh tanaman.
Berdasarkan jumlah unsur hara yang dikandungnya, pupuk terdiri dari :
Pupuk tunggal, yaitu pupuk yang hanya mengandung satu unsur hara, misalnya urea (N).
Pupuk majemuk, yaitu pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur seperti NPK dan beberapa pupuk daun serta kompos.
Pupuk lengkap, yaitu pupuk yang mengandung unsur lengkap secara keseluruhan (baik unsur makro maupun mikro).
Nitrogen (N)
Nitrogen merupakan unsur hara esensial yang dibutuhkan tanaman, karena nitrogen merupakan penyusun protoplasma secara keseluruhan (Sarwono, 1995). Nitrogen diambil tanaman dalam bentuk amonium (NH₄⁺) dan nitrat (NO₃⁺). Ion-ion amonium dan beberapa karbonat mengelami sintesis dalam daun dan diubah menjadi asam amino yang terjadi pada hijau daun. Apabila unsur nitrogen tersedia dengan tepat akan menghasilkan protein yang tinggi (Saifuddin Sarief, 1986).
Peranan nitrogen pada tanaman adalah untuk merangsang pertumbuhan, memberikan warna hijau pada daun, mengatur penggunaan kalium, Posfor dan unsur penyusun lainnya pada tanaman.
Gejala kekurangan nitrogen memperlihatkan daun-daun berwarna hijau kekuning-kuningan hingga menjadi kuning seutuhnya, pertumbuhan kerdil dan kurus. Pemberian pupuk N yang berlebihan dapat mengakibatkan tanaman rentan terhadap penyakit (Saifuddin Sarief, 1986).
Fosfor (P)
Fosfor umumnya diserap tanaman sebagai ortofosfat (H₂PO₄⁺) atau sekunder (H₂PO₄⁻) masuk dalam tanaman melalui akar rambut, ujung akar dan tudung akar. Gejala kekurangan fosfor ditandai dengan pertumbuhan terhambat (kerdil), karena pembelahan sel terganggu, selain itu secara fisik akan terlihat daun-daun menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun. Sedangkan apabila fosfor diberikan secara berlebihan akan mengakibatkan tinggi tanaman terhambat dan pembentukan cabang berkurang (Ismunadi dkk, 1991).
Kalium (K)
Kalium memegang peranan penting pada proses fotosintesis. Pemberian kalium dapat meningkatkan kecepatan fotosintesis karena sel-sel daun menjadi lebih besar dan jumlah stomata meningkat. Fungsi utama kalium membantu pembentukan protein dan karbohidrat serta berperan memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur (Pinus Lingga, 1991).
Kalium memiliki sifat higroskofis karena itu kalium dapat menyerap air dari atmosfer sehingga kebutuhan air dalam tubuh tanaman dapat terjaga. Kalium dalam bentuk ion diperlukan dalam jumlah banyak untuk pertumbuhan tanaman, kekurangan kalium pada daun tua akan menyebabkan klorosis, bagian ujung daun menguning dan akhirnya mati. Sementara kelebihan kalium tidak berpengaruh negatif terhadap tanaman (Pinus Lingga, 1991).
Kalsium (Ca)
Kalsium bertugas untuk merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mengeraskan batang tanaman dan merangsang pembentukan biji. Kalsium yang terdapat pada batang dan daun berfungsi untuk menetralisasi senyawa atau keadaan yang tidak menguntungkan pada tanah (Pinus Lingga, 1991).
Tanaman yang mengalami kekuranagn kalsium dicirikan oleh tepi daun-daun muda yang mengalami klorosis. Gejala ini lambat laun akan menjalar diantara tulang-tulang daun. Kuncup-kuncup muda akan mati karena perakarannya kurang sempurna, dan sering berbentuk abnormal. Kalaupun ada daun yang muncul, warnanya akan berubah dan jaringan di beberapa tempat pada helai daun akan mati (Pinus Lingga, 1991).
Magnesium (Mg)
Magnesium berfungsi untuk reaksi-reaksi energi metabolisme, sintesis nukleus, kloroplas, ribosom dan penting untuk fotosintesis. Magnesium memberikan pengaruh untuk terciptanya hijau daun yang sempurna dan terbentuknya karbohidrat, lemak dan minyak-minyak. Selain itu magnesium memegang peranan penting dalam transportasi fospat pada tanaman. Dengan demikian kandungan fosfat pada tanaman dapat dinaikan dengan jalan menambah unsur magnesium (Pinus Lingga, 1991).
Belerang (S)
Belerang berperan dalam pembentukan bintil-bintil akar, sulfur juga merupakan bagian dari asam amino sistein, sistin, metionin dan penyusun protein. Selain itu sulfur dapat membantu pertumbuhan anakan.
Gejala tanaman yang kekurangan belerang umumnya tampak pada seluruh daun muda yang berubah menjadi hijau muda, kadang-kadang warnanya tampak tidak merata, sedikit mengkilat agak keputihan, kemudian berubah menjadi hijau kekuning-kuningan, pertumbuhan tanaman terhambat, kerdil, berbatang pendek dan kurus (Pinus Lingga, 1991).
Besi (Fe)
Besi memiliki peran yang tidak dapat digantikan dalam pembentukan
kloropil. Gejala kekurangan besi dapat menimbulkan klorosis, lembaran daun akan menguning atau pucat, sedangkan urat-urat daun tetap berwarna hijau (Dwijosepoetro, 1992).
Mangan (Mn)
Mangan mempunyai peranan penting dalam menyusun klorofil, membantu fotosintesis, merangsang perkecambahan biji dan pemasakan buah (Djoehana Setyamidjaya, 1986). Kekurangan mangan sama halnya dengan gejala kekurangan besi tetapi klorosisnya lebih jelas antara urat-urat daun dengan daun yang kekurangan warna hijau (Mul Mulyani Sutedja dan Kartasapoetra, 1993).
Seng (Zn)
Seng adalah unsur yang berperan dalam mengaktifkan enzim pada proses pembentukan asam indolasetat (Dwijosepoetra, 1992). Kekurangan unsur ini akan menyebabkan kerusakan pada ujung akar.
Tembaga (Cu)
Tembaga berfungsi sebagai pembentuk bagian enzim dan diperlukan untuk pembentukan substansi (zat) yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan proses oksidasi reduksi. Kekurangan Cu mengakibatkan tanaman mudah rebah (Saleh, 1976).
Boron (Bo)
Boron berfungsi mengangkut karbohidrat pada tubuh tanaman dan menghisap unsur kalsium. Selain itu, boron berperan dalam perkembangan bagian-bagian tanaman untuk tumbuh aktif. Pada tanaman penghasil biji, unsur ini berpengaruh terhadap pembelahan sel (Pinus Lingga, 1991).
Kelainan yang diakibatkan oleh kekurangan unsur boron paling nyata tampak pada tepi-tepi daun, yaitu gejala klorosis mulai dari bagian bawah daun kemudian mengering dan mati. Daun yang baru muncul menjadi kerdil, kuncup-kuncup mati dan berwarna hitam. Kekurangan unsur ini bisa mengakibatkan gangguan fisiologis, khususnya pada tanaman sayuran, tembakau dan apel. Bahkan pada tanaman jagung dapat menyebabkan tongkolnya tanpa biji sama sekali. sementara itu kelebihan boron dalam tanah tidak berpengaruh negatif terhadap tanaman (Pinus Lingga, 1991).
Molibdenum (Mo)
Molibdenum berperan sebagai pembawa elektron pada beberapa enzim yang berperan dalam reduksi nitrat dan fiksasi nitrogen. Kekurangan Mo pada daun ditandai dengan klorosis mulai pada daun tua seperti kekurangan nitrogen (Wieny H. R. Marma Jaya, dkk., 1985).
Langganan:
Komentar (Atom)

